Kamis, 18 Oktober 2012
Quote for Today
"If you see a waves, or a rollercoaster. You'll remember me, because They're my twins. My life always look like them. That's why I can be strong till now" - Stevanus Kustanto
Kamis, 11 Oktober 2012
Fakta Tentang Kian Egan
ME ON MY BLOG: Fakta Tentang Kian Egan: kian adalah penggemar Liverpool yang juga paling usil di Westlife. Kian terbilang rapi. Dia suka membersihkan cambangnya sampai licin. ...
Selasa, 09 Oktober 2012
Merry Christmas from Westlife
Ini adalah Video pertama yang bikin saya suka sm Westlife terutama Kian =D Check this out Lifers !!!
Kamis, 04 Oktober 2012
Walk Away (Musrifah Nur Arfiati)
“Prok prok prok prok!” suara tepuk tangan membahana memenuhi ballroom rumah
Mr. Walter. Terlihat lambaian tangan Mr. Walter yang memberi sinyal bahwa
pidato nya belum selesai dan dia masih ingin melanjutkan pidatonya.
“….Ya hadirin semuanya! Saya sangat senang dengan kedatangan Anda semua di
acara peresmian ini. Pameran berlian ini akan saya adakan mulai hari ini sampai
dua minggu ke depan! Dan anda yang datang di acara ini bukan sembarang orang!”
Mr. Walter menekankan nada pada kalimat ‘bukan sembarang orang’ hm, walaupun
terdengar agak arogan, menurutku “…berlian-berlian ini sangat berharga. Tentu
saja banyak yang mengincarnya di luar sana. Maka saya menyiapkan pengamanan
yang sangat ketat untuk pameran ini, sekali lagi hanya untuk kalangan
tertentu…” pidato Mr. Walter membuatku bosan. Begitulah ia, si kolektor berlian
yang terlihat agak arogan dan terkesan melebih-lebihkan. Mr. Walter adalah
seorang sosialita kolektor berlian ternama di seluruh Inggris Raya.
Lama-lama pidato Mr. Walter membuatku muak, aku berjalan keluar ruangan
menikmati sentuhan angin musim gugur di malam hari yang menyentuh pipiku.
Memang, aku tak terbiasa dengan kehidupan dan acara-acara para sosialita. Yap,
kalau bukan tuntutan profesi, aku tak mau susah payah berada di sini. Tak lama
kemudian suara tepuk tangan membahana untuk yang kesekian kalinya. Terlihat Mr.
Walter telah turun dari podiumnya, aku tak begitu menghiraukannya. Dari sudut
mataku kulihat Mr. Walter berjalan ke arah tempatku berdiri. Aku pura-pura tak
acuh dan terus melayangkan pandanganku ke luar dari atas balkon. Jam tanganku
masih menunjukkan pukul 09.00 pm, masih belum terlalu malam.
“Red Wine, Mr. Filan?” terlihat sosok Mr. Walter telah berdiri di sampingku
sambil membawa dua gelas berisi anggur merah. Salah satu tangannya mengulur ke
arahku, menyodorkan segelas wine yang berbau wangi itu.
“Terima kasih, Mr. Walter” kataku datar sambil mengambil gelas dari tangan
Mr. Walter.
“Ini red wine tahun 1940. Saya harap Anda menyukainya” lagi lagi dia
menyombongkan koleksi red wine nya yang sebagian besar berusia hampir puluhan
tahun lebih. Aku hanya mengangguk. Aku mencium aroma red wine itu. Wangi. Sedikit
aku mereguknya. Lidahku merasakannya, dan benar, cita rasa red wine asal Berlin
ini sungguh…. Speechless.
Mr. Walter mengajakku ke tengah-tengah ballroom. Di sana telah berdiri
tujuh pengunjung, empat diantaranya tentunya sosialita, mengelilingi kotak kaca
mewah yang kacanya terbuat dari kaca yang sepertinya susah untuk dipecahkan.
Lapisan kaca yang sangat tebal. Di dalamnya ada bantalan berwarna merah elegan
yang berguna sebagai tempat meletakkan berlian berwarna hijau-kebiru-biruan dan
jika terkena sinar lampu maka ia akan memancarkan cahaya putih yang
menakjubkan. Mr. Walter mulai menyombongkan berlian itu. Yap, berlian itu
adalah berlian koleksi Mr. Walter yang paling mahal dan paling langka. Pantas
saja pengamanan nya sungguh ketat. Di samping kotak itu berdiri tiga penjaga
khusus yang disewa Mr. Walter dari agen swasta hanya khusus untuk menjaga
berlian itu sampai pameran selesai.
“Wow! Fantastis sekali!” kata Mr. Oliver Zevenshovcha, sosialita asal
Cekoslovakia sang kolektor mobil.
“Hm… kurasa harganya juga sangat mahal!” kata Mrs. Gwyneth McAdams, istri
sosialita berkebangsaan USA, Theodore McAdams.
“Uangku tak kan cukup membeli ini!” kata Tuan Fernando Jose, sosialita asal
Peru. Aksen Spanish nya kentara sekali.
“Wow! Kalau ini dilelang, tentu saja aku mau membelinya dengan harga
berapapun!” seru Mr. Louis Jose-Levitt sosialita asal Inggris, kolektor berlian
juga, sahabat dan juga saingan Mr. Walter.
“Wow! Ibuku pasti suka, kalau aku memberikan ini kepadanya” kata Inspektur
Mark Feehily, sahabat karibku di kepolisian. Dia terkekeh.
“Jangan harap kau bisa mencurinya, Mark!” canda Detektif Nicky Byrne,
sahabatku juga. Nicky adalah partner kerjaku di kepolisian. Mark menimpali
Nicky dengan terbahak.
“Hahaha, kalau Mark mencurinya dia bisa turun pangkat dong!” kata Inspektur
Kian Egan, teman dekatku juga di kepolisian. Mark hanya senyum-senyum saja, dia
memang sering jadi bahan candaan Kian dan Nicky karena umurnya yang paling
muda. Aku tersenyum-senyum mendengarkan mereka berbicara.
Tiba-tiba lampu di ballroom mati. Semua pengunjung gaduh. Suara gaduh
terdengar sangat berisik dari tengah ballroom. Prang! Seperti suara kaca yang
dipukul paksa. Terdengar juga suara serpihan-serpihan kaca yang jatuh di
lantai. Gelap! Sepertinya ini situasi gawat. Suara jeritan para wanita
sosialita sungguh membuat suasana semakin terasa mencekam. Kacau.
Di kegelapan, samar-samar aku merasakan sosok Mr. Walter yang sedari tadi
di sampingku telah pergi. Dari kejauhan terdengar suara lelaki bernada berat,
sepertinya itu suara Tuan Walter yang menyuruh pelayannya untuk menyalakan
genset. 20 menit kemudian lampu ballroom menyala. Kegaduhan seketika mereda,
dan situasi kembali normal. Mr. Walter mencoba menenangkan semua hadirin.
Tiba-tiba Nicky berteriak “Berliannya HILANG!”
Aku pun menoleh ke arah Nicky. Kian membelalakkan matanya. Dengan cekatan
Kian memanggil bala bantuan dari kepolisian “Terjadi pencurian berlian di rumah
Mr. Eugene Walter. Segera kirimkan pasukan SEKARANG!”
Terlihat Mrs. McAdams terduduk lemas, Mr. McAdams duduk disamping istrinya.
Mr. Jose-Levitt menatap nanar ke kotak mewah yang sekarang telah kosong itu,
Mr. Jose daritadi aku tak melihatnya sama sekali, Mr. Zevensovcha memegang
gelas yang berisi white wine nya sambil bersandar di pilar dekat kotak berlian
itu. Serpihan-serpihan kaca yang tajam terlihat berserakan dan memantulkan
cahaya lampu.
Tak lama kemudian aku sadar akan sesuatu. Mark! Mark dimana? Aku memutuskan
untuk tak menghiraukan Mark, mungkin dia sedang ke kamar mandi. Kemudian aku
berlari keluar berharap aku bisa mendapatkan jejak-jejak pencurinya, tapi
usahaku sia-sia. Tiba-tiba ada sentuhan dingin yang menyentuh punggungku.
“Shane!” suara yang kukenal. Akupun menoleh.
“Mark? Sedang apa kau…”
“Aku… aku… aku sedang berusaha mengejar pencurinya…” kalimatnya
menggantung. Mark terdengar gugup, nafasnya juga memburu. Dada nya naik turun.
Peluh di keningnya menderas. Kemeja di bagian bahunya basah. Suara Mark
terdengar aneh “kau sendiri?” tanya Mark kemudian.
“Aku juga sama sepertimu…” kataku “kau melihat pencurinya?” tanyaku
kemudian
“Tidak! Aku kehilangan jejak! Gelap semuanya!” kata Mark terdengar kesal
“kurasa pencurinya tidak lewat sini, aku tak yakin juga” nada Mark terdengar
meragu.
“Tak apa, Mark. Mari kita masuk” aku merangkul Mark masuk ke dalam.
Badannya gemetar. Kuharap Mark tak menyembunyikan sesuatu.
Situasi di dalam ballroom chaos. Kisruh. Gaduh. Kulihat para pengunjung
berjubel mengelilingi kotak yang telah dikelilingi oleh garis polisi tersebut.
Di garis depan terdapat tiga orang penjaga berlian khusus Mr. Walter dan dua
orang dari kepolisian. Tiga penjaga berlian itu sedang diinterogasi singkat
oleh dua orang polisi tadi.
“Jangan ada seorangpun yang menyentuh kotak ini dan benda-benda di
sekelilingnya!” kata Inspektur Jenderal Brian McFadden “ini adalah barang
bukti, untuk proses penyidikan!” lanjutnya
Para pasukan kepolisian mengamankan para pengunjung. Seketika acara
pembukaan pameran pun harus ditutup dengan terpaksa karena ada kejadian yang
tak terduga ini. Para pengunjung pun dipaksa pulang karena rumah Mr. Walter
akan disterilkan selama beberapa hari kemudian. Terpaksa juga mungkin pameran
ini akan ditunda sampai beberapa hari ke depan sampai penyelidikan selesai.
Atau mungkin tidak ada pameran berlian sama sekali.
Kulihat Kian sedang berbisik-bisik dengan Inspektur Jenderal Brian
McFadden. Sepertinya mereka sedang bernegosiasi. Nicky terlihat sedang bersama
Mr. Walter, wajah Mr. Walter pucat pasi. Ekspresinya seperti zombie yang sudah
tidak makan daging manusia berabad-abad lamanya. Tentu saja Tuan Walter sangat
shock dengan kejadian yang baru saja menimpanya. Masih untung Mr. Walter tidak
memiliki riwayat penyakit jantung yang serius, kalau punya pasti dia sudah
terkena serangan jantung daritadi.
Aku berdiri di samping Mark sambil berpikir dan mengingat kejadian 45 menit
yang lalu. Mr. Oliver Zevensovcha yang terkagum-kagum dengan berlian itu, Mrs.
Gwyneth McAdams yang sangat menginginkan berlian itu, Mr. Fernando Jose yang
mengaku tak sanggup membeli berlian itu, Mr. Louis Jose-Levitt yang sangat
ingin memiliki berlian itu sebagai koleksinya. Mark, Kian, Nicky? Aku tak yakin
mereka termasuk dalam komplotan pencuri berlian. Aku kenal dekat dengan mereka.
Lagipula mereka kan anggota kepolisian. Kuputuskan untuk mencoret Kian, Nicky dan
Mark dari daftar yang patut dicurigai. Akhirnya hanya tersisa empat orang
sosialita yang lain, yang sejak sebelum peristiwa berdiri di dekat kotak
berlian Mr. Walter. Tapi… Tunggu dulu! Rasanya ada yang masih mengganjal.
Logikaku terus bekerja, mengumpulkan potongan-potongan fakta dan alibi. Tapi
kurasa aku belum memiliki cukup bukti. Penyelidikan lebih lanjut perlu
dilakukan.
Dari jauh terdengar suara Inspektur Jenderal Brian McFadden yang menyuruh
Mark, Kian, Nicky, Mrs. Gwyneth McAdams, Mr. Oliver Zevensovcha, Mr. Louis
Jose-Levitt dan Mr. Fernando Jose untuk berkumpul. Kemudian Nicky memanggilku.
“Shane, kurasa kita dapat tugas baru dari Mr. McFadden, kita ditugaskan
untuk menyelidiki kasus ini sampai tuntas” kata Nicky, wajahnya terlihat
bersemangat. Aku mengangguk dan tersenyum kepada Nicky. Kemudian kami berjalan
menuju ke tempat Inspektur Jenderal McFadden mengumpulkan para sosialita tadi.
“Maaf sebelumnya, bukan maksud saya mencurigai Anda-anda semua. Saya di
sini sebagai anggota kepolisian yang ditugaskan untuk menyelidiki kasus ini,
ingin meminta kerjasama dari Anda semua” kata Inspektur Jenderal McFadden
dengan nada yang berwibawa “kami ingin keterangan dari Anda selama Anda berada
di sekitar tempat kejadian perkara, tenang saja disini Anda masih berstatus
sebagai saksi. Kami minta kedatangan Anda semua di kantor kami besok pagi pukul
09.00 am untuk keperluan penyidikan. Kami sangat memohon kerjasama Anda supaya
kasus ini cepat terselesaikan” kata Inspektur Jenderal McFadden kemudian Kian
mempersilahkan para sosialita tadi untuk kembali ke rumah masing-masing.
***
Sedari pukul 08.00 am aku sudah stand by di kepolisian. Nicky juga ada
disana. Kami duduk di dekat meja Mark. Kian berjalan menuju kami sambil membawa
tiga gelas kopi untuk aku, Nicky dan dia sendiri. Mark daritadi belum terlihat
batang hidungnya.
Tepat pukul 09.00, Mark datang bersama dengan Inspektur Jenderal McFadden.
Para saksi, Mrs. McAdams yang ditemani suaminya, Mr. Zevensovcha, Mr.
Jose-Levitt sudah hadir semuanya. Masih kurang… Mr. Jose!
“Dimana Mr. Jose?” tanyaku
“Fernando sedang mengantarkan istrinya ke rumah sakit” kata Mr. McAdams
menjawab pertanyaanku “mungkin 15 menit lagi dia datang kemari” lanjutnya.
10 menit kemudian datanglah Mr. Jose dengan Mr. Walter. Wajah Mr. Walter tampak
muram. Raut arogan dan garis congkak yang setiap hari menghiasi wajahnya kini
terlihat luntur. Peristiwa ini patut jadi pelajaran baginya.
“Saat lampu mati terasa ada orang yang menyenggol lenganku sangat keras.
Aku hampir terjatuh, untung saja disampingku ada pilar” kata Mr. Zevensovcha
“gelap.. gelap semuanya!” lanjutnya. Penjelasannya sama sekali tidak membantu.
“Aku hanya mendengar suara gaduh disana-sini, aku phobia kegelapan,
sehingga aku menjerit. Aku benar-benar tak suka situasi kemarin malam!” kata
Mrs. McAdams. Sudah cukup bukti, kemarin Mrs. McAdams memang terlihat lesu dan
pucat. Tak mungkin dia bisa menembus kegelapan kalau dia takut kegelapan.
Namanya kucoret!
“Meskipun menginginkan berlian itu aku tak mungkin mencurinya kan?” Mr.
Jose-Levitt menggunakan nada tinggi di akhir pertanyaan retorisnya “lagipula
Eugene adalah sahabat karibku sejak masih di angkatan darat” lanjutnya.
“Aku tak tahu apa-apa. Aku muak membahas ini” kata Mr. Jose. Mencurigakan!
Interogasi hari ini cukup sampai di sini. Kami berencana akan melanjutkan
kembali jika bukti-bukti masih banyak yang janggal, di lain waktu. Aku meminta
waktu kepada Mr. McFadden beberapa hari untuk memikirkannya bersama timku:
Mark, Nicky, dan Kian.
***
“Bagaimana menurut kalian? Aku curiga dengan pernyataan Mr. Jose” kata Kian
“saat lampu dihidupkan Mr. Jose tidak ada di tempat! Kau sadar tidak, guys?”
tanya Kian. Aku dan Nicky mengangguk tapi Mark terlihat diam sambil berpikir.
“Maaf, kemarin a..a..kuu.. juga tak ada di tempat” kata Mark. Semua mata
tertuju pada Mark. Nicky dan Kian terheran-heran. Sedetik kemudian hening.
“Kau punya alibi Mark?” tanya Nicky memecah keheningan
“Kira-kira 5 menit sebelum lampu menyala, kurasa aku tak punya. Tetapi,
setelah lampu menyala aku bertemu Shane di luar” mata Kian dan Nicky beralih
kepadaku. Aku hanya mengangguk. Sebenarnya aku juga ragu dengan Mark.
Kemudian kami membahas alibi satu persatu saksi-saksi yang sudah kami
panggil tadi pagi. Sampai akhirnya kita sampai pada suatu hasil yang belum bisa
dikatakan final. Kami sepakat untuk menaikkan status Mr. Jose menjadi
tersangka. Kami mengacu pada sejumlah fakta yang ada. Pernyataan Mr. Jose tadi
pagi dan alibi Mr. Jose kemarin malam sesaat setelah berlian itu diketahui
hilang. Tapi, samar-samar otakku bersuara, ada yang tidak beres. Ada sesuatu
yang terasa disembunyikan. Aku juga mencurigai Mark, walau terasa tidak yakin.
“Nick, kau kenal dekat dengan Mr. Jose kan? Aku dengar Mr. Jose adalah
sahabat karib ayahmu” kata Kian kemudian
“Yap, sebenarnya tidak terlalu dekat. Tapi, mungkin bisa kubujuk dia untuk
memberikan keterangan” kata Nicky terdengar mantap.
***
“Nick, aku tak yakin….” aku membangunkan Nicky di tengah malam. Mataku
benar-benar tak bisa terpejam.
“Hah, Shane? Kau bilang apa?” Nicky membenarkan posisi tidurnya yang
seperti orang duduk di sofa sambil memicingkan sedikit matanya. Mulutnya
menguap lebar. Buku yang ada di dadanya jatuh saat ia bergerak “kau tak yakin
apa?” sedikit-sedikit Nicky mulai melebarkan kelopak matanya, kurasa dia tertarik.
“Aku tak yakin kalau Mr. Jose…. Pelakunya…” kata-kataku terdengar
menggantung “mungkin…. Ah sudahlah, Nick”
“Tunggu saja, besok pagi aku akan menemui Mr. Jose” kata Nicky kemudian dia
melanjutkan tidurnya. Aku menghela napas.
***
Nicky kembali dengan rona wajah yang terlihat cerah. Kemudian dia
menceritakan pertemuannya dengan Mr. Jose lebih lanjut. Ternyata sewaktu
beberapa detik setelah lampu menyala, Mr. Jose cepat-cepat pergi ke kamar
mandi. Tapi dia tersesat dan sampai ke kamar mandi pelayan Mr. Walter. Nicky
juga sudah menanyai pelayan Mr. Walter, dan mereka mengaku kalau memang benar
Mr. Jose ada di sana. Tapi masalahnya, apa yang dilakukan Mr. Jose sewaktu
lampu masih padam?
Tiba-tiba terdengar dering telepon yang mengagetkan kami berdua. Kian menelepon.
“Aku baru saja menanyai Mark tentang peristiwa kemarin. Jujur saja aku jadi
curiga dengan dia” kata Kian di telepon sambil berbisik “temui aku di Café
D’Lounge Rhode St. pukul 05.00 pm hari ini” kemudian sambungan telepon dari
Kian terputus.
***
Di Café D’Lounge. Aku dan Nicky duduk di pojok dan Kian duduk berhadapan
dengan kami berdua. Kian berbicara pelan.
“Dari sejumlah fakta yang kukumpulkan. Ternyata Mark keluar 10 menit
setelah lampu padam, dia keluar ruangan setelah mendengar suara kaca yang dipecah.
Katanya, dia merasa ada orang yang mendorongnya untuk minggir. Dari pantulan
cahaya samar-samar yang berasal dari jendela luar, dia mendeskripsikan orang
yang mendorongnya kira-kira berbadan tinggi, kurus dan kepala agak botak…” kata
Kian “setelah itu dia mencoba untuk mengejar orang itu, tapi gagal…” lanjutnya
“Tunggu dulu! Diantara empat saksi kemarin yang berperawakan tinggi, kurus
dan agak botak ada dua orang! Mr. Jose dan Mr. Zevensovscha! Bedanya, Mr.
Zevensovcha perutnya agak buncit…” kataku kemudian. Dahi Nicky mengkerut. Kalau
dipikir-pikir sewaktu peristiwa terjadi Mr. Zevensovscha tidak pernah
meninggalkan tempat, dan Mark juga tak tahu bentuk perut orang yang
mendorongnya, karena suasana sangat gelap saat itu. Semakin membingungkan saja.
Jadi orang yang kucurigai bertambah menjadi Mr. Jose dan Mr. Zevensovscha.
Mark? Kurasa belum.
***
“Komplotan pencuri berlian kelas menengah!” kata Mr. McFadden “mereka pasti
punya orang dalam. Strateginya sangat halus. Suara kaca pecah itu terasa
seperti di-skenario. Atau mungkin saja tidak… “ muka Mr. McFadden terlihat
serius. Pikiranku berkecamuk. Kesaksian Mark, alibi Mr. Jose, dan alibi Mr.
Zevensovscha yang lemah untuk dicurigai, karena ia punya alibi kuat. Dia sama
sekali tidak meninggalkan tempat saat kejadian berlangsung. Lantas?
***
Sepuluh menit untuk sampai ke halaman depan rumah Mr. Walter? Rasanya tak
mungkin. Ballroom Mr. Walter luas, belum lagi rumahnya yang besar. Kecuali
kalau dia lari. Dan 10 menit adalah waktu yang tepat jika dia tidak tersesat.
Tapi tak mungkin Mark tersesat. Dan seperti ciri-ciri fisik Mark yang terlihat
kemarin, tentu saja dia berlari. Tapi bukan berarti kalau estimasi waktu ku
terhadap Mark ini hampir cocok, dia pantas dicurigai sebagai suspect. Motif!
Mark kan tidak memiliki motif yang pasti. Hadiah untuk ibunya? Kurasa Mark tak
serendah itu.
Mr. Jose alibinya lemah, tapi setidaknya ada saksi yang membuat alibinya
sedikit kuat. Pelayan Mr. Walter yang melihatnya berjalan ke kamar mandi
pelayan. Motif? Mr. Jose kelihatannya tidak begitu tertarik dengan berlian itu,
dia hanya bilang “uangnya tak akan cukup untuk membeli berlian semahal itu” itu
bukan motif yang bisa dijadikan acuan seseorang mencuri. Apalagi Mr. Jose bukan
kolektor berlian, dia kolektor guci antik. Tapi kalau dia berkomplot dengan
sindikat pencuri berlian, lain lagi ceritanya. Tapi kurasa statusnya masih
lemah saat ini.
Seandainya Mr. Zevensovscha dicurigai sebagai suspect, tidak mungkin
dia melakukannya sendiri, pasti ada satu orang lagi yang membantunya di dalam
yang pastinya posisinya tidak jauh dari Mr. Zevensovcha!
Posisi berdiri orang yang mengelilingi kotak berlian itu: Tiga penjaga
berada di sekeliling kotak tapi mereka berdiri di belakang para pengunjung. Aku
berdiri di samping salah satu penjaga berlian, Mr. Walter berdiri di sebelah
kananku agak ke belakang. Urutan tujuh orang terdepan, searah jarum jam: Mr.
Jose-Levitt, Nicky, Mr. Jose, Mark, Mr. Zevensovscha, Kian, Mrs. McAdams. Mark
berdiri di antara Mr. Jose dan Mr. Zevensovcha yang ciri-ciri keduanya
sama-sama botak dan tinggi kurus. Salah satu dari keduanya pasti bergerak
menjauh dari Mark. Dan itu pasti Mr. Jose karena Mr. Jose ingin ke kamar mandi.
Tapi? Mr. Jose ke kamar mandi beberapa detik sebelum lampu menyala, sedangkan
Mark telah meninggalkan ruangan 10 menit setelah lampu menyala. Padahal jarak
waktu lampu padam sampai menyala adalah 20 menit. Berarti? Teka-teki ini mulai
menampakkan potongan-potongan rumitnya.
***
“Aku sudah menemukan pelakunya! Pelakunya adalah mungkin satu-dua orang
yang berada di sekitar tempat kejadian. Yang jelas dia tidak bekerja sendiri!”
kataku kepada mereka. Inspektur Jenderal McFadden hanya manggut-manggut sambil
tersenyum simpul.
Mr. Zevensovcha, Mr. Jose-Levitt, Mr. Jose dan Mrs. McAdams berdiri tanpa kata
sepatah pun keluar dari mulut mereka. Mereka diam mematung, seolah satu di
antara mereka ada yang harap-harap cemas dan ada juga yang penasaran ingin
sekali mengetahui siapa pelakunya. Mimik muka mereka terlihat datar, entah
bersikap seolah tegar atau bermaksud ingin memnyembunyikan sesuatu. Ya… jujur
saja, aku masih kesulitan mencari pelaku yang satu lagi. Masing-masing dari
mereka punya alibi kuat. Termasuk Kian, Nicky dan Mark. Ya, Mark… bukan
suspect.
“Mr. Zevensovscha, anda bilang ada yang menyenggol lengan Anda sewaktu
suasana ballroom masih gelap, benar begitu?” tanyaku pada Mr. Zevensovscha,
kulihat dia hanya mengangguk dalam diam “…dan Mr. Feehily, juga merasakan hal
yang sama dengan Anda! Bedanya dia dapat melihat orang yang menyenggolnya secara
samar-samar, tapi Mark juga tak yakin dengan ciri-ciri fisik orang tersebut
karena suasananya yang gelap. Jelas, ada satu di antara kalian yang mencoba
meninggalkan tempat saat lampu ballroom padam, dan kembali sesaat sebelum lampu
menyala…” sengaja kugantungkan kalimatku. Kulihat berbagai macam ekspresi dari
mereka yang berubah-ubah. Aku bukan psikolog, aku tak tahu apa yang mereka
sembunyikan.
“…tapi tentu saja, orang yang bisa melakukan aktivitas secepat itu adalah
orang yang mengetahui betul seluk beluk rumah Mr. Walter. Tapi hanya Mr. Walter
yang hapal betul denah rumahnya… Kecuali ada satu orang di antara kalian yang
sering mengunjungi rumah Mr. Walter dan kenal betul dengan rumah Mr. Walter!
Anda, Mr. Jose-Levitt!” kataku sambil mengalihkan pandangan ke hadapan Mr.
Jose-Levitt.
Mr. Walter membelalak tak percaya. “Louis…? Benarkah… kau…?” tanya Mr.
Walter
“Hah? Hahahahahaha! Kau bodoh Mr. Filan! Mana mungkin? Motif apa yang
membuatku berkeinginan mencuri berlian Eugene? Kau tentu saja tak bisa menjawabnya
kan?” tawa Mr. Jose-Levitt meledak, semua orang diam “…mana bukti otentiknya?
Lagipula mana mungkin mengitari rumah Eugene dalam 20 menit…”
“Saya katakan lagi, Anda tidak sendiri. Ada seseorang yang membantu Anda…”
“Aku punya buktinya!” suara Nicky memecah keheningan. Pernyataan Nicky
sungguh tak terduga
“Mana mungkin kau bisa mendapatkan buktinya?” kataku meragu.
“Aku…. Salah satu dari mereka…” semua mata tertuju kepadanya. Lututku
gemetar. Badanku lemas, tulangku tak kuat menopang berat tubuhku. Mana mungkin?
Mana mungkin Nicky berkhianat kepadaku? Kepada seluruh jajaran kepolisian? Aku
terdiam. Aku tak sanggup mengeluarkan kata-kata.
“Detektif Nicky Byrne! Kurasa Anda perlu bersaksi di depan pengadilan
nanti!” suara khas Mr. McFadden memecah keheningan itu. Aku masih terpaku
berdiri tak bergerak. Tak percaya.
Kian dan Mark merapat ke tubuh Nicky sambil memegangi kedua tangan Nicky.
Anak buah Inspektur Jenderal McFadden masuk ke ruangan tempat kami berada,
kemudian memborgol tangan Mr. Jose-Levitt. Mata Mr. Walter memandang Nicky dan
Mr. Jose-Levitt dengan tatapan muak.
“Katakan! Apa yang sebenarnya terjadi Nick?! KATAKAN!!” aku berteriak di
depan muka Nicky. Jujur aku masih tak habis pikir. Sulit dipercaya!
“Aku tak bisa lepas dari mereka, Shane… Aku terikat kontrak seumur hidup!
Walaupun aku mencoba untuk bertobat, menjadi orang yang lurus dan tidak ingin
melakukan tindakan terkutuk ini. Bayangan mereka menghantuiku. Sewaktu aku
bergabung di jajaran kepolisian ini… aku dimanfaatkan mereka…” aku tak mau lagi
mendengar penjelasan Nicky. Sudah jelas! Ya, sudah jelas semuanya!
Nicky dan Mr. Jose-Levitt diamankan sementara di kepolisian. Mereka masih
dimintai keterangan lebih lanjut mengenai kasus ini. Mereka tidak hanya berdua,
diluar sana masih ada orang yang terlibat. Aku memutuskan untuk mengundurkan
diri dari kasus ini. Aku menyerahkan kasus ini kepada Mark dan Kian. Aku harap
mereka bisa secepatnya menangkap semua pelakunya. Kurasa sudah cukup sampai
disini. Nicky… sungguh membuatku tak percaya. I’m walk away. Kasus ini selesai
untukku, tapi tidak untuk mereka di kepolisian.
Kepercayaan itu mahal harganya...
END
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hoho, itu dia Fanfict Westlife-nya Kak Muchie ^^ Mari dibaca !!!
Oh ya, kalian bs comment disini atau langsung comment di blog-nya ~~~> http://spellmynamethreetimes.blogspot.com
Langganan:
Komentar (Atom)
